Sabtu, 01 Februari 2014

Penyuluhan



PENYULUHAN DAN PRODUKSI PERTANIAN
Oleh:

Amelia Nani Siregar  ameliasireg@gmail.com

            Penyuluhan berasal dari kata suluh (obor) yang berarti penerang, dalam bahasa inggris disebut extension yang berarti perpanjangan, perluasan, kawat penyambung. Dalam perkembangannya penyuluhan pertanian tidak hanya berperan sebagai perpanjangan tangan atau penyambung antara pemerintah dan petani, tetapi merambah sampai ke peningkatan produksi dan kesejahteraan petani, bahkan lebih jauh lagi untuk pemberdayaan masyarakat yang berarti menggerakkan partisipasi masyarakat (community development), benarkah demikian? 
            Sistem Pendidikan Nasional membagi pendidikan menjadi 3, yaitu pendidikan formal (sekolah), pendidikan informal (diklat) dan pendidikan non formal (penyuluhan). Ketiganya bertujuan untuk mengubah atau lebih tepatnya meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap (kemampuan/ability), hanya berbeda dalam proses pendidikannya. Asumsi yang dibangun adalah setelah mendapatkan pendidikan, peserta didik akan bertambah kemampuannya sehingga dalam berusahatani berusaha keras untuk meningkatkan produksi tanaman yang pada akhirnya hasil panen meningkat melebihi kecukupan biaya hidup sehingga akhirnya petani menjadi sejahtera.  Pertanyaannya adalah apakah semua orang yang sudah mendapatkan pendidikan hidupnya akan sejahtera? Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan melalui sekolah berpengaruh terhadap penghasilan (bukan kesejahteraan) hanya pada laki-laki, sedangkan pada perempuan tidak signifikan. Jika mereka sejahtera banyak faktor yang mempengaruhi potensi sumberdaya manusia selain kemampuan, misalnya: motivasi, kreativitas, aspirasi, kekosmopolitan, intuisi, dsb yang tumbuh dan berkembang terpicu oleh proses pendidikan. Jika memang ingin memaksa untuk mencari hubungan antara penyuluhan dan peningkatan produksi, pengaruh penyuluhan (R) terhadap produksi tanaman padi di Tasikmalaya hanya 0,007 (hitung sendiri berapa nilai r nya). Dapat dikatakan bahwa penyuluhan merupakan intervening variabel yang tidak dapat diukur bila dihubungkan dengan produksi tanaman, karena banyak faktor lain yang mempengaruhi peningkatan produksi tanaman apalagi sampai pada peningkatan kesejahteraan petani.
            Mengevaluasi kegiatan penyuluhan (pelaksanaan dan dampak) dapat dilakukan tapi bila dihubungkan dengan peningkatan produksi bahkan peningkatan kesejahteraan petani haruslah melibatkan variabel lain karena penyuluhan merupakan salah satu variabel saja dalam peningkatan produksi tanaman.  Dalam peningkatan kesejahteraan petani, penyuluhan bukan merupakan variabel dalam 8 indikator kesejahteraan.
            Saat ini tercatat 28.492 orang Penyuluh Pertanian dan 21.249 orang Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian, sehingga total 49.741 orang yang bergerak melakukan penyuluhan pertanian. Belum lagi tenaga penyuluh pertanian swadaya sebanyak 8.380 orang (Machmur M, Sinar Tani Ed. 29; 2014).  Sebagian tenaga penyuluh pertanian ini sudah disertifikasi sehingga diharapkan bisa go international, walau tunjangan sertifikasinya belum ada.  Jumlah ini sudah cukup banyak, tapi mengingat UU No 16/2006 yang menggariskan satu desa satu penyuluh, tentunya jumlah penyuluh masih sangat kurang karena di Indonesia terdapat sekitar 73 ribu desa yang diperkirakan akan bertambah pula. Menurut peneliti Malaysia, negara terlalu mahal membayar penyuluh sebanyak itu, karena penyuluh di Malaysia tidak terspesifikasi menurut sub sektor.
            Dulu Penyuluh Pertanian mengklaim bahwa merekalah yang berperan dalam pencapaian swa sembada beras di Indonesia, sekarang kenyataannya ketika sasaran produksi pertanian untuk mencapai surplus 10 juta ton beras tidak tercapai, akibatnya Penyuluh Pertanian yang disalahkan.  Hal ini berlandaskan asumsi yang dibangun tanpa mempertimbangkan variabel lain yang mempunyai derajat hubungan dan pengaruh yang lebih kuat ke peningkatan produksi.
            Rendahnya kinerja Penyuluh Pertanian sudah merupakan kenyataan, mungkin juga disebabkan karena rendahnya kemampuan para penyuluh sebagai guru bagi petani. Penyuluh harus menguasai ilmu teknis pertanian, disamping ilmu komunikasi dalam menyampaikan materi penyuluhan. Jika petani lebih pintar daripada penyuluh, maka penyuluh tidak dibutuhkan oleh petani. 
Ciawi, 1/2/2014 pk 6:14