PENYULUHAN
DAN PRODUKSI PERTANIAN
Oleh:
Amelia
Nani Siregar ameliasireg@gmail.com
Penyuluhan berasal dari kata suluh (obor) yang berarti
penerang, dalam bahasa inggris disebut extension
yang berarti perpanjangan, perluasan, kawat penyambung. Dalam perkembangannya
penyuluhan pertanian tidak hanya berperan sebagai perpanjangan tangan atau
penyambung antara pemerintah dan petani, tetapi merambah sampai ke peningkatan
produksi dan kesejahteraan petani, bahkan lebih jauh lagi untuk pemberdayaan
masyarakat yang berarti menggerakkan partisipasi masyarakat (community development), benarkah
demikian?
Sistem Pendidikan Nasional membagi pendidikan menjadi 3,
yaitu pendidikan formal (sekolah), pendidikan informal (diklat) dan pendidikan
non formal (penyuluhan). Ketiganya bertujuan untuk mengubah atau lebih tepatnya
meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap (kemampuan/ability), hanya
berbeda dalam proses pendidikannya. Asumsi yang dibangun adalah setelah mendapatkan
pendidikan, peserta didik akan bertambah kemampuannya sehingga dalam
berusahatani berusaha keras untuk meningkatkan produksi tanaman yang pada
akhirnya hasil panen meningkat melebihi kecukupan biaya hidup sehingga akhirnya
petani menjadi sejahtera. Pertanyaannya
adalah apakah semua orang yang sudah mendapatkan pendidikan hidupnya akan
sejahtera? Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan melalui
sekolah berpengaruh terhadap penghasilan (bukan kesejahteraan) hanya pada
laki-laki, sedangkan pada perempuan tidak signifikan. Jika mereka sejahtera
banyak faktor yang mempengaruhi potensi sumberdaya manusia selain kemampuan,
misalnya: motivasi, kreativitas, aspirasi, kekosmopolitan, intuisi, dsb yang
tumbuh dan berkembang terpicu oleh proses pendidikan. Jika memang ingin memaksa
untuk mencari hubungan antara penyuluhan dan peningkatan produksi, pengaruh
penyuluhan (R) terhadap produksi tanaman padi di Tasikmalaya hanya 0,007
(hitung sendiri berapa nilai r nya). Dapat dikatakan bahwa penyuluhan merupakan
intervening variabel yang tidak dapat diukur bila dihubungkan dengan produksi
tanaman, karena banyak faktor lain yang mempengaruhi peningkatan produksi
tanaman apalagi sampai pada peningkatan kesejahteraan petani.
Mengevaluasi kegiatan penyuluhan (pelaksanaan dan dampak)
dapat dilakukan tapi bila dihubungkan dengan peningkatan produksi bahkan
peningkatan kesejahteraan petani haruslah melibatkan variabel lain karena
penyuluhan merupakan salah satu variabel saja dalam peningkatan produksi
tanaman. Dalam peningkatan kesejahteraan
petani, penyuluhan bukan merupakan variabel dalam 8 indikator kesejahteraan.
Saat ini tercatat 28.492 orang Penyuluh Pertanian dan
21.249 orang Tenaga Harian Lepas Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian, sehingga
total 49.741 orang yang bergerak melakukan penyuluhan pertanian. Belum lagi
tenaga penyuluh pertanian swadaya sebanyak 8.380 orang (Machmur M, Sinar Tani
Ed. 29; 2014). Sebagian tenaga penyuluh
pertanian ini sudah disertifikasi sehingga diharapkan bisa go international, walau
tunjangan sertifikasinya belum ada.
Jumlah ini sudah cukup banyak, tapi mengingat UU No 16/2006 yang
menggariskan satu desa satu penyuluh, tentunya jumlah penyuluh masih sangat
kurang karena di Indonesia terdapat sekitar 73 ribu desa yang diperkirakan akan
bertambah pula. Menurut peneliti Malaysia, negara terlalu mahal membayar
penyuluh sebanyak itu, karena penyuluh di Malaysia tidak terspesifikasi menurut
sub sektor.
Dulu Penyuluh Pertanian mengklaim bahwa merekalah yang
berperan dalam pencapaian swa sembada beras di Indonesia, sekarang kenyataannya
ketika sasaran produksi pertanian untuk mencapai surplus 10 juta ton beras tidak
tercapai, akibatnya Penyuluh Pertanian yang disalahkan. Hal ini berlandaskan asumsi yang dibangun
tanpa mempertimbangkan variabel lain yang mempunyai derajat hubungan dan
pengaruh yang lebih kuat ke peningkatan produksi.
Rendahnya kinerja Penyuluh Pertanian sudah merupakan
kenyataan, mungkin juga disebabkan karena rendahnya kemampuan para penyuluh
sebagai guru bagi petani. Penyuluh harus menguasai ilmu teknis pertanian,
disamping ilmu komunikasi dalam menyampaikan materi penyuluhan. Jika petani
lebih pintar daripada penyuluh, maka penyuluh tidak dibutuhkan oleh
petani.
Ciawi, 1/2/2014 pk 6:14